Tuhan Besertaku


NASIHAT YESUS DAN PEGALAMAN IMAN

Salah satu nasihat dari Yesus yang merupakan kritik terhadap orang-orang Farisi adalah ”Takutilah Dia, yang setelah membunuh mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. (Lukas 12:5).Biasanya orang takut karena manusia dan mungkin kita punya trauma terhadap orang-orang tertentu. Kita dapat lihat juga dalam masyarakat bahwa orang takut pada polisi, takut pada orang pajak karena takut diperiksa, takut pada jaksa, atau KPK sebab kadang-kadang ada pengalaman negatif yang tersimpan dalam hati dan membuat orang menjadi takut. Ketakutan yang demikian, bisa menjadi sesuatu yang nerotik juga. Dalam masyarakat, orang lebih takut terhadap manusia daripada pada Tuhan. 
Banyak orang pergi ke mesjid, gereja, ke wihara, ataupun ke pura tetapi kita lihat kejahatan korupsi, kejahatan apapun yang membuat hidup ini susah dan tidak sesuai dengan warta injil, tetap berjalan. Ini menandakan bahwa, banyak orang tidak takut akan Allah. Takut akan Allah bukan berarti Allah akan menjadi sekedar hanya hakim kita, hukum dosa kita. Takut Allah dalam kitab suci berarti taqwa, hidup yang saleh. Ini merupakan awal dari orang yang beriman. Awal seorang yang beriman bukan karena perkawinan atau karena doanya dikabulkan atau karena mujizat, bukan! Tapi adalah sikap takut akan Allah.
Dan kita memperingati, St. Ignatius dari Anthiokia. Ia adalah seorang uskup dan martir. Kita sering mendengar lagu tentang anggur Kristus yang digiling atau diperas. St. Ignatius dari Anthiokia ini tidak takut akan orang-orang yang akan membunuh dia. Dia menyerahkan tubuhnya untuk dicincang. Dia menjadi saksi kebenaran, saksi dari Kristus yang diimaninya. Tidaklah mudah menjadi seorang Kristen pada abad pertama. Kalau dia menjadi seorang pemimpin ia harus berani dan menyerahkan tubuhnya untuk Kristus. 
Pengalaman beriman tidaklah sama dengan pengalaman mendapatkan mujizat. Di tempat saya ada seorang yang sangat kaya, tidak katolik tapi istrinya katolik. Kebetulan anaknya sakit kanker yang tidak dapat diobati. Dia pergi dokter tidak hanya di sini bahkan sampai ke Singapore, dan untuk menghidupi anak ini, apa saja akan dilakukannya. Karena dia tahu anaknya divonis mati dalam 3 bulan oleh dokter. Anaknya hanya dua, satu wanita dan satu pria. Yang wanita yang akan meninggal. Segala cara ditempuh, antara lain menyewa petugas kesehatan dari Jakarta yang charter ke Singapore. Kita manusia hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk memperpanjang hidupnya. Ternyata anak itu hidup beberapa tahun lagi bukan beberapa bulan. Anak itu ingin rumah baru maka diberikannya rumah baru. Bahkan dia membeli empedu landak yang terkenal dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan yang sampai ratusan juta harganya. Orang-orang katolik berdoa baginya, dan kemudian anaknya minta dia untuk menjadi katolik. Dia bilang begini: “Jika kamu sembuh, papi akan pindah agama”. Bapa yang perkawinannya diberkati di gereja itu tidak melihat bahwa anaknya telah diperpanjang umurnya; dia hanya ingin melihat kesembuhan. Kasih Tuhan ataupun mujizat belum tentu mengubah orang dengan sebetulnya. Dan pengalaman iman bukan soal itu. 
Dalam kitab suci pun kita melihat, banyak orang yang disembuhkan Yesus tetapi tidak mengikuti Yesus. Dan banyak di dunia di KRK-KRK dan penyembuhan-penyembuhan, apakah mereka menjadi pengikut Kristus? Tidak!!! Bahkan penyembuhan ataupun kejadian-kejadian ajaib tidak membuat orang menjadi pengikut Kristus. Itu hanyalah pengalaman sesaat. Yang membuat orang memiliki pengalaman iman adalah Taqwa (adalah sikap takut akan Allah). Inilah yang dialami oleh St. Ignatius dari Anthiokia yang kita peringati.
Beriman bukan berarti merupakan ritual-ritual, melainkan lebih pada sikap batin kita yang dari hari ke hari membarui diri. Oleh karenanya tidak dapat kita pisahkan antara yang lahiriah dengan yang batiniah. Itulah yang kritik Yesus terhadap orang-orang Farisi. Mereka menganggap sesuatu yang lahiriah itu bagus, tetapi di dalam batinnya tidak sama. Itulah ragi orang Farisi. Mungkin kita juga mempunyai ragi yang sama, mungkin kita memiliki kesalehan di luar, tetapi kita sama saja seperti anggota masyarakat lain. Kita tidak memiliki sikap taqwa, kita hanya tampil baik, kudus di depan orang. Apalagi kita sebagai panutan, sebagai pengurus PD, BPK, BPN, janganlah kita memiliki ragi yang sama seperti yang dikatakan injil hari ini. 
Maka mulai pagi ini kita pun mau merubah pola hidup dan pola pikir kita. Kita sungguh-sungguh menjadi murid Kristus yang tidak takut pada Allah karena hukumnya tapi karena kasihNya. KasihNya membuat kita takut. Karena Dia lebih besar, karena Dia membuat kita hidup, Dia mengasihi kita lebih dari yang lain. Dia memiliki sesuatu yang bisa kita harapkan lebih dari harapan kita akan dunia ini. Itulah yang membuat kita berani di hadapan dunia dan takut di hadapan Allah. **Rm. Alex Suwandi, Pr



0 Responses

    About Me

    Followers